ketawa sejenak

Hitam segalanya

Alkisah di negara Afrika sana, manusia yang paling hitam adalah yang paling hebat! Hitam dalam arti hitam segala-galanya, itulah Negro Sejati! Ada 3 orang anak kecil yang sedang membandingkan kehitaman Bapaknya.
Anak yang ke 1 : ” Babe gue kemarin sedang ngupas Apel, eh..tangannya
terluka, DARAH nya HITAM!!!!…
Anak yang ke 2 : “Papi ku kemarin sedang benerin Parabola,eh..terjatuh
sampai patah tulang, TULANG nya HITAM !!!”
Anak yang ke 3, nggak mau kalah hebat : “Hm.. itu belum seberapa,tadi
malam waktu kami sedang nonton TV diruang keluarga, tiba-tiba Bokap
gua KENTUT, …..e-eh,…tiba tiba seluruh ruangan jadi GELAP !!!!!!”

Sumber: http://cerita-humor.info

Seorang pemuda dan Hitler

Pada suatu hari di Jerman, Hitler pergi ke sebuah bioskop, dia hendak menonton pemutaran film perjuangan Nazi yang tentunya mengisahkan tentang Hitler itu sendiri sesuai dengan peraturan pada saat itu.
Dengan menyamar sebagai pemuda miskin ia masuk dan duduk di bagian depan…ketika acara hendak dimulai, seperti biasa pengunjung berdiri dan memberi hormat. Saking terharunya melihat kesetiaan rakyatnya tanpa sadar ia menangis, tetapi seorang pemuda yang berdiri disampingnya menegurnya ..
Pemuda itu berkata, “hei kenapa kamu tidak berdiri? Saya mengerti perasaan kamu terhadap ‘bajingan’ itu, tapi apa daya.kita di kelilingi oleh para penembak gelapnya …..”

Sumber: http://cerita-humor.info

Masalah daur ulang

Suatu hari ada seorang PR dari Indonesia suatu perusahaan mengajak makan seorang relasi perusahaannya dari Jepang.
Di perjalanan pulang keduanya saling ngobrol.
Jepang : “Kalo di Indonesia sisa makanan seafood tadi diapain ?”
Indonesia : “yaaaa, dibuang.”
Jepang : “Oh, Kalau di Jepang itu diolah lagi menjadi makanan
ringan, kemudian dijual di Indonesia.”
Indonesia : “Oh, begitu”
Si Jepang melihat ke arah minuman kaleng yg di minum si Indonesia
Jepang : “Minuman kaleng itu habis kamu minum kamu apakan?”
Indonesia : “Ya, dibuang”
Jepang : “Oh, kalo di Jepang kaleng itu di daur ulang, untuk dijadikan mobil kemudian dijual ke Indonesia.”
Indonesia : “Oh, gitu.” (dengan sedikit kesal)
kemudian mereka melewati tempat pembuangan ban bekas
Jepang : “Buat apaan ban-ban bekas itu?”
Indonesia : “yaaa, buat dibakar.”
Jepang : “Oh, kalau di Jepang ban-ban itu diolah untuk dijadikan kondom, kemudian dijual ke Indonesia”
Indonesia : “Oh, Begitu!” (dgn nada kesal, kemudian balik bertanya)
Indonesia : “kamu tahu ngak diapakan kondom yang habis dipakai?”
Jepang : “Tidak” (dengan perasaan heran)
Indonesia : “Kondom-kondom itu diolah kemudian dijadikan permen
karet lalu di jual ke Jepang!”

Sumber: http://cerita-humor.info

DISELAMATKAN OLEH IKAN

“Pada suatu waktu aku pernah sekarat,” kata Nasruddin, “Kemudian ada ikan yang datang menyelamatkan hidupku.”

“Bagaimana caranya? Tolong katakan padaku?” tanya pendengar penasaran.

“Aku sedang sekarat karena kelaparan. Ada sungai di dekatku. Aku menangkap ikan itu dan memakannya. Ikan itu menyelamatkan hidupku.”

 

Sumber: ketawa.com

 Tidak Konsisten dengan Pengetahuan

Seorang Darwis ingin belajar tentang kebijaksanaan hidup dari Nasrudin. Nasrudin bersedia, dengan catatan bahwa kebijaksanaan hanya bisa dipelajari dengan praktek. Darwis itu pun bersedia menemani Nasrudin dan melihat perilakunya.

Malam itu Nasrudin menggosok kayu membuat api. Api kecil itu ditiup-tiupnya.

“Mengapa api itu kau tiup?” tanya sang Darwis.

“Agar lebih panas dan lebih besar apinya,” jawab Nasrudin.

Setelah api besar, Nasrudin memasak sop. Sop menjadi panas. Nasrudin menuangkannya ke dalam dua mangkok. Ia mengambil mangkoknya, kemudian meniup-niup sopnya.

“Mengapa sop itu kau tiup?” tanya sang Darwis.

“Agar lebih dingin dan enak dimakan,” jawab Nasrudin.

“Ah, aku rasa aku tidak jadi belajar darimu,” ketus si Darwis,

“Engkau tidak bisa konsisten dengan pengetahuanmu.”

Ah, konsistensi.

Sumber: ketawa.com

Perlakuan Sama Tapi Hasil Berbeda

“Segala sesuatu yang ada harus dibagi sama rata,” ujar seorang filsuf di hadapan sekelompok orang di warung kopi.

“Aku tak yakin, itu akan terjadi,” ujar seseorang yang selalu ragu.

“Tapi, pernahkah engkau memberi kesempatan?” menimpali sang filsuf.

“Aku pernah!” teriak Nasrudin. “Aku beri istriku dan keledaiku perlakuan yang sama. Mereka memperoleh apa yang betul-betul mereka inginkan.”

“Bagus sekali!” kata sang filsuf. “Sekarang katakan bagaimana hasilnya.”

“Hasilnya adalah seekor keledai yang baik, dan istri yang buruk.”

Sumber: ketawa.com

About nandi

Lecturer of Department of Geography Education
This entry was posted in GeoKetawa. Bookmark the permalink.