Berandai-andai Pendidikan Karakter memberikan Karakter (lesson learnt dari SD di Jerman)

2b grundshule Spielbild-3Terus terang ketika mendengar dan membaca bahwa kurikulum baru 2013 segera diimplementasikan, saya cukup semangat. Bukan karena muatan-muatan lain yang kental didalamnya tapi lebih karena unsur kesamaan dan kebermanfaaatan didalamnya. Setelah saya perhatikan isi kurikulum terutama SD hampir mirip dengan kurikulum di Jerman, artinya ada harapan bagi perbaikan kondisi pendidikan di Indonesia.

Pengalaman menyekolahkan anak kami di Jerman, mungkin sama dengan di Jepang, mendaftar SD harus berdasarkan tempat tinggal terdekat, mereka menghitung jarak terdekat dan waktu tempuh dan yang menentukan juga sama yaitu pemerintah kota. Untuk menjamin kualitas yang merata di semua sekolah, setiap anak wajib masuk ke sekolah terdekat yang telah ditunjuk oleh pemerintah (Bila memilih untuk belajar di sekolah selain yang telah ditunjuk, maka orang tuanya harus mengajukan permintaan khusus disertai dengan alasan-alasannya). Sebaliknya, pemerintah pun menyediakan guru-guru dan fasilitas pendidikan yang merata di semua sekolah, baik di kota besar maupun di pelosok yang jauh dari kota.
Isi kurikulum juga tidak berat, untuk masuk SD tidak ada syarat apapun untuk masuk, semua anak yang masuk SD hampir semua belum bisa baca. hanya 1 yang wajib, ketika usia sudah 7 thn maka anak harus sdh di kelas 1 SD (grundschule). Mata pelajaran untuk SD tidak banyak hampir semua pelajaran diintegrasikan ke pelajaran bahasa Jerman, artinya semua materi dimasukan dan diajarkan dalam pelajaran bhs Jerman (mirip dengan kurikulum baru kita, pelajaran seperti IPA dan IPS diajarkan dalam materi bhs Indonesia). Yang paling menonjol di kurikulum SD di Jerman yaitu pelajaran Ethik atau budi pekerti, dimana fokusnya pada penanaman karakter siswa, yaitu (1) Ordnung (ketertiban)–siswa dilatih untuk mampu secara mandiri melakukan berbagai hal,contoh membereskan mainan setelah beraktifitas, tertib atas diri sendiri, kepemilikan orang lain dan lingkungan. (2) Disziplin, contoh berdisiplin antara lain menghargai org lain, pandai memanfaatkan waktu, fokus, dsb, saat orang lain berbicara, kita mendengar, saat mengerjakan sesuatu, tidak mudah beralih ke hal-hal yang tidak penting dan (3) Pünktlichkeit (tepat waktu)– anak dibiasakan untuk setiap aktifitas, ada alokasinya hingga ke satuan menit, contoh untuk naik kendaraan umum yang jadwal keberangkatannya sudah ditetapkan. Alokasi waktu berjalan menuju halte juga dihitung. Selain itu sesuai tingkatannya anak juga diajarkan nilai2 seperti Ehrlichkeit = kejujuran, Fleiß = produktifitas, Treue = loyalitas, Höflichkeit = kesopanan. selain kompetensi pribadi, ada juga kemampuan bersosialisasi. Oh ya.. SD disini juga hanya sampai kelas 4, setelah itu masuk ke kelas 5 sampai kelas 6 atau mittel schule (SMP 2 thn) setelah itu siswa bisa memilih jalur lpendidikan lanjutan (Gymnasium, Realschule atau Berufschule). sehingga normal waktu yang diperlukan 13 tahun. Intinya, kita berharap penuh kurikulum baru di Indonesia penerapannya seperti itu, setidaknya jargon pendidikan karakter bisa terwujud bukan hanya slogan sekolah saja. Maju terus pendidikan Indonesia. Aamiin.

About nandi

Lecturer of Department of Geography Education
This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.